9 Oktober 2015 - 14:27
Komite Pencari Fakta Tragedi Mina, Satu Keharusan

Khatib Shalat Jumat Tehran menilai pembentukan Komite Pencari Fakta untuk menyelidiki penyebab tragedi Mina dan penistaan terhadap jenazah-jenazah jemaah haji yang menjadi korban dalam tragedi ini sebagai satu keharusan.

Menurut Kantor Berita ABNA, Hujjatul Islam wal Muslimin Kazem Seddiqi mengungkapkan hal itu dalam khutbah Jumat kedua di Tehran, ibukota Iran, Jumat (9/10/2015).

"Dampak dan penderitaan karena tragedi Mina yang menyakitkan hati umat Islam dunia, tidak akan pulih secepat ini," kata Seddiqi ketika menyinggung dimensi luas dari tragedi Mina yang telah merenggut nyawa ribuan jemaah haji.

Khatib Shalat Jumat Tehran juga mengkritik pemerintah Arab Saudi yang menutupi jumlah sebenarnya dari korban dalam tragedi Mina.

"Para negarawan Republik Islam Iran harus mengerahkan semua upaya mereka dengan serius untuk mengungkap fakta tragedi di haji tahun ini dan menemukan solusi agar peristiwa pahit ini tidak terulang kembali," tegasnya.

Hujjatul Islam wal Muslimin Seddiqi lebih lanjut menilai lemahnya pengelolaan manasik haji sebagai faktor terpenting terjadinya tragedi Mina.

Arab Saudi, kata Seddiqi, tidak berusaha untuk menyelenggarakan manasik haji dengan teratur, sebab pemerintah negara ini sedang sibuk berpikir tentang perang di Yaman dan pembunuhan rakyat tak berdosa di negara ini.

Ulama terkemuka Iran itu juga mengkritik sikap pasif sejumlah kalangan internasional dan Islam termasuk Dewan Kerjasama Teluk Persia (P-GCC) dalam menyikapi tragedi Mina.

"Catatan sejarah menunjukkan bahwa dalam krisis-krisis parah regional, dewan ini tidak bertindak apapun kecuali menunjukkan sikap lemahnya," ungkapnya.

Khatib Shalat Jumat Tehran menjelaskan, bukti menunjukkan bahwa pasca tragedi Mina, polisi Arab Saudi alih-alih memiliki kinerja yang tepat, mereka justru belum datang tepat waktu di lokasi insiden, dan setelah sampai pun, mereka bertindak dengan kekerasan terhadap para pejamaah haji yang terluka dan meninggal dunia.

Di bagian lain khutbahnya, Hujjatul Islam wal Muslimin Seddiqi menyinggung dukungan senjata Amerika Serikat, Inggris dan rezim Zionis Israel kepada Arab Saudi.

"Perang Yaman merupakan sebuah perang proxy yang dilancarkan oleh kubu arogan dan Zionisme melalui Arab Saudi dan bertujuan untuk membunuh Muslim oleh Muslim guna menghancurkan Islam," terangnya.

Khatib Shalat Jumat Tehran juga menyinggung serangan udara AS ke sebuah rumah sakit di kota Kunduz Afghanistan dan menilai serangan ini sebagai kejahatan perang.

"Ini bukan kejahatan yang pertama dan yang terakhir AS di Afghanistan, padahal negara ini mengklaim menjadi pembela Hak Asasi Manusia," tuturnya.

Hujjatul Islam wal Muslimin Seddiqi lebih lanjut mengungkapkan kepuasannya atas pembentukan koalisi Iran, Irak, Suriah dan Rusia untuk memerangi teroris Takfiri di Suriah.

Ia juga menyinggung protes AS dan negara-negara sekutunya atas serangan Rusia ke posisi-posisi teroris di Suriah.

"Hari ini telah terungkap bagi masyarakat dunia tentang siapa yang mendukung teroris dan siapa yang memeranginya," pungkasnya. (IRIB